Pages

04 September 2015

Aylan Kurdi Semoga Allah Merahmati

Saya tidak sanggup menampilkan gambar Aylan Kurdi yang baru-baru ini menjadi viral di internet. Silahkan saya ketik "Aylan Kurdi" di mesin pencari anda untuk mendapatkan gambar Aylan Kurdi, seorang bocah Suriah berumur 3 tahun. Sepantaran dengan putra pertama saya.

Yang saya tahu, Aylan Kurdi berjalan jauh menempuh lintas negara bersama kakaknya Galip Kurdi (5 tahun) beserta Ayahnya Abdullah dan bundanya Rihan. Menjauhi peperangan yang berlarut di negaranya Suriah. Dari Suriah, ke Turki, untuk kemudian menyeberangi lautan untuk ke Yunani setelah permohonan suakanya di Kanada ditolak.

Namun perahu yang digunakan mereka terhantam ombak besar. Abdullah Kurdi berusaha menyelamatkan mereka dengan memegang, mendekap memeluk sebisanya agar mereka tidak tenggelam di lautan. Namun Rihan, Galip, dan Aylan akhirnya tenggelam dan meninggal dunia. Semoga Allah merahmati mereka.

Aylan mungkin tidak akan pernah membayangkan perjalanannya akan seberat itu. Menggunakan pakaian rapi dan bersepatu, dia mungkin hanya berpikir tentang berwisata, bermain-main, bersenyum dan tawa ceria dengan Ayah, Ibunda dan Kakak tercintanya ke negeri-negeri yang lebih indah dibandingkan Suriah.

Mungkin itu yang terbaik untuk mereka, Allah berkehendak memudahkan hidup mereka di sisi-Nya daripada harus menyabung nyawa di dataran asing dengan kehidupan yang keras dan penuh derita. Namun tak ayal hati saya robek-robek rasanya.

"Aku memegang mereka berdua saat perahu terbalik, tapi gelombang tinggi yang pertama membunuh anak tertua saya, Galip, dan kemudian satu lagi ombak menggulung putra bungsu saya"

"Saya ingin duduk di sebelah makam keluarga saya dan menyembuhkan luka yang saya rasakan"

- Abdullah Kurdi.

Untuk damai, katanya kita harus siap untuk perang dan sabar dalam perjuangan. Namun sejarah perang di dunia selalu menyisakan cerita serupa Aylan : pilu.

Mungkin terlalu idealis, namun kedua tangan ini ingin rasanya bisa berbuat lebih dari sekedar doa teruntuk saudara dan saudari kami di jauh sana yang teraniaya....

24 August 2015

Yang Kubaca

di antara tumpukan berkas berkas berdebu dan sunyi memakan hati
di alunan perangkat yang berderit jejerit menitik tinta mencetak kekata
di hadapan  layar segi empat yang lapang mengutara tentang asa dan cita
ketik jemari berbicara menyeret deret angka di jumlah bagi pun rata rata
dan yang kubaca hanyalah rindu dan cinta yang mekar di ujung senjakala

14 March 2014

Tiga Cinta

ada yang meracau patah kata tentang cerita kancil dan kepitingnya
serupa mantra mantra a i u e o yang belum jelas tanda baca titik koma
di hari hari kita yang habis di aspal penuh lubang belantara rimba Jakarta
;itulah cinta mu yang sedang belajar mengeja makna aksara cinta

ada yang tenang dan kemudian menendang-nendang sesuka suka
di balik rahimmu yang kuat dan bulat seperti bola dunia seisinya
itu yang berat kau bawa kesana kemari sepanjang kali bata gajah mada
;itulah cinta mu yang mengajarimu tentang cinta nan paripurna

ada yang duduk terkurung di ruang kubikal juta damprat berbilang bilang
menghitung uang uang punya orang orang yang sering lebih dan kurang
kemudian membawa pergi dan pulang semua bimbang di pagi dan petang
;itulah cinta mu yang membaca binar mata mu sebagai puisi kasih sayang

10 February 2014

Hati-hati di Jalan Raya

Sudah 2 minggu ini saya tertatih tatih menggunakan alat bantu kruk untuk berjalan. Kaki kanan saya luka lecet agak dalem. Lebam dan memar-memar akibat kecelakaan tunggal motor roda dua.

Cerita ini bermula di Senin pagi yang mendung. Waktu itu niat hati ingin cepat sampai kantor dengan masuk ke daerah patra kuningan yang relatif sepi daripada lewat Rasuna Said yang ramai macet. Namun ada polisi tidur agak tinggi yang baru dibuat. Tidak ada cat penanda. Warnanya sama dengan warna aspal. Saya kurang awas dalam berkendara. Kecepatan cukup tinggi. Dan terjadilah yang terjadi. Matic saya menerjang, terbang, melayang. Sayangnya mendarat tidak selamat. Jadilah jatuh mencium aspal jalanan yang perih.

Syukur alhamdulillah tidak ada yang patah. Namun peristiwa itu masih menyisakan nyeri, apalagi luka juga sepertinya mengalami peradangan yang menyebabkan kaki bengkak. Tidak bisa mandi. Susah berjalan. Dan seminggu lebih saya absen. Beberapa pekerjaan kantor saya lakukan secara remote menggunakan VPN.

Tidak habis pikir, mengapa hal ini bisa terjadi. Ada rasa "kurang terima", mengapa saya yang angkuh bisa jatuh. Hehehe. Terakhir saya jatuh dari motor ketika saya kuliah yang menghasilkan pipi saya sobek dan harus dijahit. Setelah itu, saya selalu merasa prima dalam berkendara. Setelah menikah dan sekarang di Jakarta, saya sudah terbiasa berjibaku di jalanan Jakarta: menembus pagi yang dingin di antara mobil, motor, angkot, asap pekat, dan bis kota yang ugal-ugalan.

Sampai pada suatu pagi, hari pertama saya berangkat ke kantor setelah seminggu saya istirahat di rumah. Di dalam taksi. Saya melihat pemandangan di luar yang riuh ramai kendaraan bermotor. Padahal masih juga jam 5.30 pagi. Tapi semangat para pekerja jakarta sudah terbakar bagai nyala api. Selain semangat, ada perilaku berkendara roda dua yang saya lihat : potong kanan, potong kiri, kemudian mendadak berhenti. Saling salip diantara deru mesin, asap, dan bunyi klakson yang pekakkan telinga. Sejujurnya ini menyebalkan bagi pengendara roda empat. Sampai suatu saat ada pengendara motor yang tidak sabar, dan menyerempet spion taksi yang saya tumpangi. Kemudian melenggang begitu saja, tanpa maaf.

"Insya Allah, semua ada balasannya", kata supir taksi sambil membetulkan posisi spion.

"Sering pak seperti ini?", Tanya saya kemudian.

"Sering, namun doanya orang mungkin tidak selalu baik", kata sopir taksi itu sambil terus menyetir.

DEG! Tetiba saya merasa di tampar dan dihadapkan pada cermin diri selama ini. Memang, saya berkendara motor juga sering saling salip, potong kanan dan kiri di jalanan yang macet seperti ini. Namun seingat saya, saya selalu berhati-hati agar tidak menyerempet kendaraan lain. Meski begitu, perilaku saya ini mungkin juga masih sangat menyebalkan bagi pengendara yang lain. Terutama pengendara roda empat. Dan, doa orang mungkin tidak selalu baik. Sehingga suatu hari lalu, bisa jadi ada pengendara yang saya dzalimi (baca: teraniaya), dan doanya didengar oleh Yang Maha Kuasa.

Akhirnya, hati-hati di jalan raya tidak hanya berarti hati-hati dengan tidak menyebabkan diri dan orang lain celaka. Namun rupanya juga hati-hati dari doa-doa orang yang didzalimi hak-haknya sebagai pengendara di jalan raya. Artinya kita seharusnya ikut peduli dan menjaga hak-hak pengguna jalan raya lainnya.

Wallahu a'lam.

06 November 2013

Takut dan Berani

Perkenankan saya "berbual-bual" tentang rasa takut dan berani. Ini tentang takut dan berani yang saya alami :)

Pada dasarnya saya adalah orang cenderung memberanikan diri. Bahkan untuk menghadapi takhayul atau mistik. Saya yakin, mereka semua yang saya hadapi adalah makhluk-Nya. Tidak akan membahayakan saya sedikitpun, jika Allah tidak menghendakinya.

Namun, saya adalah seorang penakut untuk sesuatu yang melibatkan benda yang tajam dan runcing dengan darah. Saya takut disuntik dan saya tidak berani melihat orang disuntik. Saya takut diambil darah dan tidak tega melihat orang diambil darah. Sama juga dengan kegiatan donor darah. Saya juga takut diinfus dan selalu memalingkan pandangan dari jarum infus, meski di tubuh orang lain. Semua ini membuat saya lemas. Phobia mungkin. Tapi tidak parah. Setidaknya saya bisa memberanikan diri untuk menghadapinya. Apalagi untuk alasan kesehatan seperti medical checkup.

Agak berbeda ketika saya melihat pertarungan yang berdarah-darah misal seperti tinju. Sama halnya dengan film aksi atau film horor yang memperlihatkan scene mandi darah. Atau melihat kecelakaan di jalan yang memakan korban jiwa. Saya berani melihatnya. Bahkan untuk beberapa kasus, berani menolong.

Ok, ini adalah bagian kecil dari rasa takut saya. Setelah ini ada hal yang menyebabkan saya sangat takut. Yaitu naik pesawat.

Moda transportasi jarak jauh yang paling saya sukai adalah kereta api. Entah mengapa saya merasa nyaman. Saya terpaksa naik pesawat jika, tiket pesawat jauh lebih murah dari kereta api. Atau memang perjalanan jauh lintas pulau. Senjata saya menghadapi rasa takut itu dengan tidur. Hehehe. Dan dulu, yang membuat saya berani naik pesawat adalah karena rindu yang menggebu untuk bertemu dengan istri dan buah hati tercinta.

Kembali lagi dengan rasa takut. Sebenarnya takut kenapa sih? Takut kecelakaan pesawat kemudai meninggal dunia?

Memang terbayang bagaimana sakitnya meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat. Namun bukan proses meninggal dunia sebenarnya yang saya takutkan. Namun alam setelah mati. Saya merasa belum punya cukup bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Dan rasanya akan sangat menyedihkan berpisah dengan Anak dan Istri dalam keadaan saya belum bisa memberikan apa-apa kepada mereka. Terkadang saya berpikir, para pilot, pramugara dan pramugari seharusnya adalah orang yang sangat religius. Karena dalam porsi waktu hidupnya, mereka adalah orang-orang yang lama dalam posisi "dekat" pada Tuhan. Di atas sana, diantara awan-awan malam, diayun berbagai macam angin kencang dan turbulensi. Kita hanya bisa menjadi orang yang pasrah dan berserah diri (baca: muslim) bukan?

Tapi itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan hal-hal yang saya hadapi semalam. Ketika anak semata wayang saya demam tinggi. Malam benar-benar mencekam. Saya benar-benar takut. Takut terjadi sesuatu yang buruk. Rasa takut ini sama halnya ketika saya melihat istri saya demam tinggi. Terlebih-lebih ketika demam tinggi saat hamil tua. Saya benar-benar salut dengan istri saya yang terbiasa menghadapi malam mencekam ini seorang diri sebagai seoarang single fighter, ketika saya belum bisa pindah ke Jakarta.

Ah, keberanian itu ada dalam doa pada Tuhan yang Maha Kuasa. Terutama doa dari orang tua. Dan kemudian ada pada Istri tercinta yang benar-benar menguatkan saya. Bagaimana dengan anda?