Pages

Undur Diri

aku lebih memilih jalan juang para petualang
yang menembus badai tak berkesudahan
daripada harus mati di kesendirian
dalam penjara ironi bernama kerja rodi

Aylan Kurdi Semoga Allah Merahmati

Saya tidak sanggup menampilkan gambar Aylan Kurdi yang baru-baru ini menjadi viral di internet. Silahkan saya ketik "Aylan Kurdi" di mesin pencari anda untuk mendapatkan gambar Aylan Kurdi, seorang bocah Suriah berumur 3 tahun. Sepantaran dengan putra pertama saya.

Yang saya tahu, Aylan Kurdi berjalan jauh menempuh lintas negara bersama kakaknya Galip Kurdi (5 tahun) beserta Ayahnya Abdullah dan bundanya Rihan. Menjauhi peperangan yang berlarut di negaranya Suriah. Dari Suriah, ke Turki, untuk kemudian menyeberangi lautan untuk ke Yunani setelah permohonan suakanya di Kanada ditolak.

Namun perahu yang digunakan mereka terhantam ombak besar. Abdullah Kurdi berusaha menyelamatkan mereka dengan memegang, mendekap memeluk sebisanya agar mereka tidak tenggelam di lautan. Namun Rihan, Galip, dan Aylan akhirnya tenggelam dan meninggal dunia. Semoga Allah merahmati mereka.

Aylan mungkin tidak akan pernah membayangkan perjalanannya akan seberat itu. Menggunakan pakaian rapi dan bersepatu, dia mungkin hanya berpikir tentang berwisata, bermain-main, bersenyum dan tawa ceria dengan Ayah, Ibunda dan Kakak tercintanya ke negeri-negeri yang lebih indah dibandingkan Suriah.

Mungkin itu yang terbaik untuk mereka, Allah berkehendak memudahkan hidup mereka di sisi-Nya daripada harus menyabung nyawa di dataran asing dengan kehidupan yang keras dan penuh derita. Namun tak ayal hati saya robek-robek rasanya.

"Aku memegang mereka berdua saat perahu terbalik, tapi gelombang tinggi yang pertama membunuh anak tertua saya, Galip, dan kemudian satu lagi ombak menggulung putra bungsu saya"

"Saya ingin duduk di sebelah makam keluarga saya dan menyembuhkan luka yang saya rasakan"

- Abdullah Kurdi.

Untuk damai, katanya kita harus siap untuk perang dan sabar dalam perjuangan. Namun sejarah perang di dunia selalu menyisakan cerita serupa Aylan : pilu.

Mungkin terlalu idealis, namun kedua tangan ini ingin rasanya bisa berbuat lebih dari sekedar doa teruntuk saudara dan saudari kami di jauh sana yang teraniaya....

Yang Kubaca

di antara tumpukan berkas berkas berdebu dan sunyi memakan hati
di alunan perangkat yang berderit jejerit menitik tinta mencetak kekata
di hadapan  layar segi empat yang lapang mengutara tentang asa dan cita
ketik jemari berbicara menyeret deret angka di jumlah bagi pun rata rata
dan yang kubaca hanyalah rindu dan cinta yang mekar di ujung senjakala

Tak Perlu Mengeluh

tak usah mengaduh tak perlu mengeluh
tetaplah teduh karena kamu tangguh

bergantung pada manusia rapuh
hanya menanti hamparan langit runtuh
kepada Satu Yang Maha Teguh
menengadahlah asa kala renyuh

tak usah mengaduh tak perlu mengeluh
karena kamu lebih dari sekedar tangguh

semerah darah tubuh berpeluh
sudah biasa nyaris mati terbunuh
jalan juang pemberani ditempuh
memijar sengat semangat penuh

tak usah mengaduh tak perlu mengeluh
kamu jauh terlampau tangguh
untuk bersimpuh setelah jatuh

tunjukkan pada yang memaksa jatuh
sejantan matahari melawan angkuh
setajam bilah halilintar menggemuruh
melantak luluh serupa angin puyuh !

Tiga Cinta

ada yang meracau patah kata tentang cerita kancil dan kepitingnya
serupa mantra mantra a i u e o yang belum jelas tanda baca titik koma
di hari hari kita yang habis di aspal penuh lubang belantara rimba Jakarta
;itulah cinta mu yang sedang belajar mengeja makna aksara cinta

ada yang tenang dan kemudian menendang-nendang sesuka suka
di balik rahimmu yang kuat dan bulat seperti bola dunia seisinya
itu yang berat kau bawa kesana kemari sepanjang kali bata gajah mada
;itulah cinta mu yang mengajarimu tentang cinta nan paripurna

ada yang duduk terkurung di ruang kubikal juta damprat berbilang bilang
menghitung uang uang punya orang orang yang sering lebih dan kurang
kemudian membawa pergi dan pulang semua bimbang di pagi dan petang
;itulah cinta mu yang membaca binar mata mu sebagai puisi kasih sayang